Visi, misi dan strategi

Pengantar
Tulisan ini banyak didasari dari Bab III buku Tony Bush dan Marianne Coleman dengan judul Leadership and Strategic Management in Education
Visi
Sebuah pendekatan stratejik dalam manajemen membutuhkan pernyataan eksplisit untuk tindakan pengaturan dan perumusan tujuan. Foreman (1998, p.18) menggambarkan semakin pentingnya konsep visi dalam dunia pendidikan. Seorang pemimpin akan menggunakan visi personalnya untuk memperjelas masa depan diri dan organisasinya. Visi akan dikomunikasikan dan didemonstrasikan dengan vigor, persuasif dan sanksi. Tanpa visi mereka tidak dapat mengarahkan secara jelas, tidak ada langkah maju, dan tidak ada komitmen. Dengan demikian, Visi merupakan ciri khas yang dapat membedakan peran kepemimpinan.
Visi berhubungan dengan pernyataan organisasi dimasa mendatang. Visi merupakan ekpresi dari nilai-nilai dan memberikan arah yang jelas apa yang akan dicapai organisasi. Juga merupakan inspirasi bagi anggota organisasi untuk memberikan motivasi bekerja dengan kebanggaan/harga diri dan semangat. Pernyataan visi yang unik dan detil, dikomunikasikan kepada semua pemangku kepentingan.
Ciri-ciri visi (Blum and Butler, 1989; Bennis dan Nanus,1985; Foreman,1998; Block, 1987; dan Hpkins, 1996) adalah sebagai berikut :
1. Realistis
2. Kredibel
3. Masa depan yang menarik
4. Kondisi yang lebih baik dibandingkan kondisi saat ini
5. Unik/spesifik untuk masing-masing orang/organisasi
6. Katalis untuk tindakan
7. Merefleksikan nilai-nilai inti (core value)
8. Ekspresi optimisme
9. Nilai-nilai yang diklarifikasi dan diartikulasikan
10. Gambaran konkret
Membangun Visi
Beare et al (1993) menekankan pentingnya hubungan antara kepemimpinan dan mimpi. Visi dibangun dari mimpi/harapan atau kumpulan tujuan atau sekenario yang dibangun dari hari ke hari yang mempengaruhi kesuksesan pemimpin dalam mentrasformasi organisasi.
Beare et al (1993) mendiskripsikan 10 ciri kepemimpinan sekolah yang ekselen, tiga diantaranya adalah : 1) pemimpin mempunyai visi untuk organisasi, 2) mengkomunikasikan visi dan membangun komitmen anggota organisasi, 3) berkomunikasi secara berarti dalam mengkomunikasikan visi.
Membangun visi merupakan proses mengisi organisasi dengan nilai-nilai, tujuan dan integritas untuk mengapa dan bagaimana meningkatkan, membentuk, mengimplementasikan, membangun dan membangun kembali secara spesifik dan melalui proses terus menerus. Visi merupakan hal krusial dalam organisasi, namun membangun visi bukan merupakan hal mudah.
Beare et al (1993) memberikan panduan dalam membangun visi :
1) Visi pemimpin sekolah termasuk gambaran mental yang dapat dikerjakan dan keadaan sekolah di masa depan yang diinginkan;
2) Visi akan memuat pandangan pemimpin dalam membangun kecerdasan/kebaikan pembelajaran;
3) Visi mencakup pula tentang gambaran dan pelaksanaan pendidikan secara umum dan masyarakat pada umumnya;
4) Visi mencakup proses yang akan dilaksanakan untuk melakukan perubahan yang diinginkan;
5) Masing-masing aspek merefleksikan perbedaan asumsi, nilai dan keyakinan tentang sifat manusia, tujuan bersekolah, peraturan pemerintah, keluarga, lingkungan keagamaan di sekolah, pendekatan belajar dan pembelajaran; dan pendekatan manajemen perubahan.
6) Visi merefleksikan benturan perbedaan pada asumsi, nilai-nilai dan keyakinan.
Pemimpin didalam membangun visi organisasi harus meninggalkan pendekatan dari atas ke bawah (top-down). Keterlibatan pemangku kepentingan diperkuat untuk mengembangkan ide. Visi harus membangun semangat karyawan, bukan membuat mereka kesal dan tidak terlibat dalam proses. Ketertarikan dan aspirasi pemangku kepentingan diakomodir, meskipun tidak setiap keinginan dan nilai-nilai pemangku kepentingan dapat terakomodir.

Misi
Misi merupakan penjelasan menyeluruh dari tujuan dan filosofi organisasi yang dirumuskan dalam kalimat atau pesan pendek. Perumusan demikian dimaksudkan agar mudah diingat dan memberi arahan tindakan bagi anggota organisasi. Misi juga merupakan pernyataan yang lebih spesifik tentang nilai-nilai, dan panduan menterjemahkan inpirasi kedalam kenyataan.
West-Burnham (1992, p.17) menberikan batasan misi :
1) Karakteristik sekolah pada komunitas;
2) Memberikan arahan dan tujuan
3) Merupakan kriteria pengambilan kebijakan
4) Membangun budaya sekolah
5) Menjadikan konsistensi dalam tindakan
6) Menjadi alat identifikasi klien
7) Menjadi alat motivasi dan tantangan
Sedang bagi Milton Keynes College di Inggris (Limb, 1992, p.168) misi dibangun dari filosofi pendidikan dan nilai-nilai yang diyakini dan merupakan :
1) Referensi dalam mengambil keputusan,
2) Membuat strategi implementasi dan kebijakan
3) Menilai perilaku dan kinerja
Penelitian Stott dan Walker (1992) menunjukan bahwa pernyataan misi cenderung sama dan sangat umum. Hal ini menyebabkan misi tidak memberikan dampak signifikan bagi perkembangan organisasi. Dengan demikian pernyataan misi harus dirumuskan dengan : kalimat pendek, mudah diingat dan spesifik.

Strategi
Strategi nerupakan pendekatan holistik untuk manajemen dan dituangkan dalam bentuk jangka waktu. Strategi berhubungan erat dengan visi dan misi organisasi. Perkembangan penerapan strategi dalam dunia pendidikan dimulai dari terjadinya perkembangan manajemen strategik. Pada awalnya pendidikan bersifat sentralistik. Pemerintah mengatur semua aspek dari kurikulum, penganggaran, SDM, hubungan dengan pihak luar. Perkembangan kemudian diperlukan desentralisasi. Pemerintah memberikan arah dan kebijakan.
Menurut Caldwell dan Spinks (1992, p.92) strategi merupakan komponen kunci dalam pengaturan prinsip menggunkan :
1) Menyelaraskan trend dan isu, tantangan dan peluang;
2) Mensikapi megatrend;
3) Membagi pengetahuan;
4) Menstabilkan struktur dan proses untuk membangun prioritas dan memformulasikan strategi;
5) Menjamin perhatian pemangku kepentingan sekolah fokus pada isi pentingnya strategi;
6) Memantau implementasi strategi agar tetap sesuai dengan rencana, memfasilitasi jalannya proses peninjauan.
West-Burnham (1994b, p. 84) mendefinisikan perencanaan strategik sebagai proses pelaksanaan dalam kurun waktu tertentu ( 3 – 5 tahun) dengan menterjemahkan visi dan nilai-nilai dampak yang signifikan, terukur dan praktis. Sedang Caldwell dan Spinks (1988, p.61) mengadopsi dari perencanaan perusahaan menyatakan bahwa strategi adalah proses berkelanjutan dari administrasi untuk menghubungkan antara tujuan, pembuatan kebijakan, rencana jangka pendek dan jangka menengah, penganggaran dan evaluasi yang terbagi dalam seluruh level organisasi, memastikan penanggungjawab untuk mengimplementasikan rencana sebagai sebuah siklus dari dampak rencana, tetap dalam kerangka rencana tahunan, penganggaran dan evaluasi. Proses perencanaan lebih penting dibandingkan dokumen (Lumby, 199, p. 75). Proses akan mengartikulasikan nilai-nilai dan pemahaman dari pemangku kepentingan yang terlibat dalam proses.

Keterbatasan Manajemen Stratejik
Perencanaan stratejik merupakan pendekatan rasional dalam menajemen organisasional. Asumsinya adalah dapat meningkatkan kontrol dalam ketidakpastian, merespon perubahan lingkungan eksternal. Rencana strategis mampu membantu manajer menciptakan sesuatu dalam kondisi chaos, memperoleh kuntungan dari kekuatan eksternal. Mengintegrasikan proses, melihat sesuatu dari persoalan menjadi sesuatu yang bermanfaat dimasa depan. Dalam praktenya hal ini tidak selalu terjadi karen beberapa faktor antara lain :
1) Keluasan pembagian antara visi dan nilai-nilai, homogenitas budaya dalam aspirasi lebih disukai dibandingkan norma-normal dalam institusi pendidikan;
2) Persoalan mengidentifikasi visi yang sesuai dengan persepsi dan kebutuhan legitimasi dari seluruh pemangku kepentingan diatas jangka waktu yang signifikan.
3) Dominasi visi akan menjadikan organisasi mekanistik kehilangan kreatifitasnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi perencanaan stratejik tidak tepat antara lain :
• Perubahan tujuan sangat cepat terjadinya
• Krisis yang tidak dapat diprediksi dan isu-isu sebagai akibat inovasi dan pekerjaan lain
• Perubahan kebijakan
• Kombinasi ketidakpastian perubahan lingkungan eksternal dan kesiapan internal

Dipublikasi di Uncategorized | Tag , | Meninggalkan komentar

Manajemen Perencanaan Strategis Pendidikan

Fungsi manajemen terdiri atas : perencanaan, pengorganisasian, kepemimpinan, pengendalian.
1. Perencaan berfungsi dalam menetapkan tujuan organisasi;
2. Pengorganisasian terkait dengan pelaksanaan

Perencanaan
Merupakan pentapan langkah-langkah kegiatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan organisasi. langkah-langkha perencanaan meliptu : penetapan tujuan, pendefinisian situasi saat ini, dukungan dan hambatan, penetapan tindakan. Tujuan ditetapkan pada awal proses perencanaan untuk memastikan apa yang akan dicapai. Pendefinisian situasi saat ini meliputi kondisi sumberdaya yang dimiliki. DUkungan dan hambatan ……

Filsafat Perencanaan
Perencanaan dikembangkan dari pandangan filsafat sintesis, rasionalisme, pengembangan organisasi dan empirisme. Sintesis menggambungkan segala sesutau yang ada untuk mendapatkan hasil perencanaan yang optimal. Rasionalisme melakukan analisis agar perencanaan rasional dan dapat dilaksanakan. Pengembangan organisasi untuk memastikan apa yang akan dikembangkan dalam oragnisasi untuk seluruh sumberdaya yang dibutuhkan. Empirisme pengalaman yang sudah dialami oleh oragnisasi menjadai salah satu bahan analisis kemapuan organisasi untuk mendapatkan informasi yang akurat yang dapat mendukung perencanaan.

Tujuan Perencanaan

  1. Standar pengawasan, mencocokan antara yang dilaksanakan dengan perencanaan yang dilakukan
  2. Mengetahui kapan perencanaan selesai,
  3. Mengetahui siapa yang terlibat,
  4. Mendapatkan kegiatan yang sistematis,
  5. Meminimalkan kegiatan yang tidak produktif,
  6. Memberikan gambaran yang menyeluruh,
  7. Memadukan beberapa sub kegiatan, masing-masing sub kegiatan dilaksanakan secara terkoordinasi untuk meningkatkan efektifitas dan efisiensi.

manfaat perencanaan

  1. standar peleksanaan dan pengawasan
  2. pemilihan berbagai alternatif terbaik,
  3. Penyusunan skla prioritas,
  4. Menghemat pemanfaatan sumberdaya organisasi
  5. membantu manajer menyesuaikan diri dengan perubahan lingkungan,
  6. memudahkan koordinasi dengan pihak terkait
  7. lat meminimalkan

Ruang lingkup perencanaan
1. Dimensi waktu : panjang , menengah, pendek
2. Dimensi Spasial : nasional, regional, okal

Tingkata Teknis Perencanaan
1. Perencanaan makro
2. Perencanaan Mikro
perencanaan Sektoral
4. Perencanaan Kawasan
5. Perencanaan Proyek

Perencanaan dari dimensi jenis
1) perencanaan dari atas ke bawah
2) dari bawah ke atas
3) menyerong ke samping

Macam Pendekatan Perencanaan Pendidikan
1) Perencanaan kebutuhan sisial
2. Pendekatan ketenagakerjaan
3. Pendekatan keefektifan biaya
4. ……

Teori Perencanaan
1. Teori sinoptik atau disebut juga system planing, sistem
2. Teori inkrementasl, berdasarkan kemampuan institusi yang didukung
3. Teori transaktif, dari kata transaksi sehingga
4. Teori advocasi
5. Teori radikal, daerah diberi kebebasan
6. Teoori SITAR

Model Perencanaan Pendidikan
1. Model komprehensif
2. Model pembiayaan dan keefektifan biaya,
3. Model PPBS (planing
4. Model target setting

Metode Perencanaan :
1) Abalisis sumber-cara tujuan
2. Analisis masukan/keluaran
3. analisis econnmetruk
4. Diagram sbeab-akibat.
Metode Dephi, menentukan
Heuristi
analisis siklus kehidupanan

Model Penempatan Pasokan (Suply Positioning Model/SPM)
Model penempatan pasokan (SPM) merupakan model untuk melakukan identifikasi posisi pasokan (barang/jasa)

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Memahami Artikel Jurnal

Dua karakter dalam membaca : dekoding dan pemahaman.
Dekoding
Membaca untuk mendapatkan informasi secara cepat dapat dilakukan dengan :
Scaning
Skiming

Kiat-kiat dalam memahami tulisan berbahasa inggris :
membaca jurnal/artikel/buku ilmiah bukan sekedar untuk membaca namun untuk mendapatkan pemahaman isi tulisan.
Sumber primer dan sumber sekunder :
Textbook merupakan sumber sekunder, karena memerlukan persiapan dalam menulisnya
Buku yang Spesifik : primer dan sekunder
Artikel Jurnal : sumber primer

Artikel Jurnal :
1. berisi kajian hasil penelitian
2. Jurnal secara struktur terdiri atas: judul, penulis, abstrak, isi (pendahuluan, kajian teori, metode penelitian, hasil penelitian, pembahasan, simpulan), literatur

Abstar berisi brief summary : purpose, method, findings, conslusions
Pendahuluan berisi purpose of study

Judul meenuhi kriteiria : pendek, pemilihan kata menarik, menyolok (eye-catching)
Abstrak : baca paragraf pertama dan akhir
Pendahuluan : pahami tentang penelitian yang pernah dilakukan
Literatur review : cari sumber-sumber yang sangat penting dalam mendukung penelitian
Metode : semua instrumen yang akan digunkan disampaikan, penyampaian tetap menarik namun tidak bertele-tele.

Langkah-langkah membaca jurnal
1. baca abstrak
2. baca pendahuluan
3. Buat catatan pada setiap bagian dan buat pertanyaan-pertanyaan
4. Identifikasi

Lakukan : surveying, skimming, dan scanning.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Efek Pygmalion

Dalam konteks penebang pohon, gergaji harus selalu diasah. sebuah cerita dalam melakukan tugas penerunan secara signifikan produktivitas dikarenakan gergaji tidak diasah secara teratur. Proses “mengasah” potensi dan skill dilakukan secara sengaja dan tidak sengaja. Tidak sengaja dengan melakukan kegiatan dan menganalisisnya. Sengaja adalah dengan memperdalam teori dan benchmarking dengan pihak lain.
Sebuah buku/modul/diktat selalu didominasi dengan gaya penulisnya. Sementara pemakai/pengguna mempunyai gaya dan karakter sendiri.
Efek Pygmalion, dalam ilmu pendidikan :

  1. Para pendidik akan memperlakukan semua peserta didik dengan apa yang dia impikan;
  2. Pendidik memelihara harapan bahwa semua anak didik adalah pintar;
  3. Harapan dan keyakinan pengajar akan terpancar lewat caranya mengajar dan memperlakukan anak didik

Hasil riset membuktikan bahwa anak didik yang diperlakukan baik oleh gurunya dan selalu disapa “anak manis” atau “anak pintar” akan menunjukkan prestasi yang lebih baik daripada anak yang tidak mendapat perlakuan serupa.

Kata-kata yang dipilih oleh pendidik dalam mengelola kelas sangat berpengaruh pada proses pencapaian tujuan.

Penuangan huruf pada keyboard sebuah mesin tulis, HP, dll (Dvorak Layout dan QWERTY Layout).

Dua alasan dalam menggunakan metode :

  1. Latar belakang teknis
  2. Latar belakang filosofis

Lima aspek dalam pembelajaran :

  1. Pelatih. Mempunyai karakteristik pribadi masing-masing;
  2. Metode. Disesuaikan dengan penguasaan metode tersebut dan karakteristik materi ajar;
  3. Peserta. Karakter peserta beragam, baik dalam satu kelas maupun lain rombongan belajar.
  4. Materi. Apakah materi merupakan teoritis atau terapan;
  5. Media. Media bantu yang paling cocok dalam melaksanakan pembelajaran.

Tujuan dari modul dan materi pembelajaran terkait dengan strategi pembelajaran yang dilakukan.  Tujuan pembelajaran ditetapkan terlebih dahulu. Semua stratgei diarahkan kepada bagaimana mencapai tujuan. Jangan sampai tujuan tidak tercapai. Materi dikerucutkan pada pendekatan spesialisasi untuk mencapai tujuan. Proses harus diarahkan kepada pencapaian tujuan.

Penguasaan peserta : tingkat pengetahuan dan ilmu; tingkat pendidikan; latar belakang budaya; lingkungan.

Aspek pendidikan : kognitif, afektif, psikomotorik, komitmen, kompetensi, kepercayaan diri. kompetensi ditentukan pada penguasaan konsep dan teori serta implementasinya. kompetensi tidak cukup dalam menentukan kesuksesan. Ada komitmen yaitu ketaatan pada apa yang disepakati; kepercayaan diri yaitu kondisi seseorang yang menjadikan penampilannya mampu membangun suasana kondusif dalam pembelajaran.

 

 

 

 

 

 

Baca lebih lanjut

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

1. Memaksa
2. Kerjasama
3. Mencari Kompromi
4. Menghindar
5. Mengalah. kecenderungan mengalah tinggi sabar, pengendalian emosi cukup bagus. orang yang mengalahnya tinggi mudah dikecewakan, mudah dimanfaatkan. daya juangnya rendah. Medium : mau mengalah apabila ada kepentingan/bila diperlukan. Mengalahnya rendah orangnya punya daya juang yang bagus, dalam sosialisasi sering mengalami benturan.
Pada saat kita mulai mengakui gaya dalam menangani konflik, bagaimana mensikapi gaya kita. hal ini berguna dalam meningkatkan optimalisasi potensi yang ada. Kebermanfaatan dalam mengjalankan peran dalam bermasyarakat.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

Ice Breaking

Ice breaking atau dalam istilah lain energizer merupakan langkah dalam memusatkan kembali perhatian peserta didik/pelatihan pada fokus kegiatan. kegiatan ini dilakukan dengan melihat kondisi peserta yang mulai mengalami pengurangan fokus yang disebabkan oleh :
1. kurang siap diawal kegiatan di pagi hari.
2. selesai istirahat
3. kondisi lingkungan yang kurang kondusif karena suhu ruangan yang panas
4. monotonnya metode pembelajaran yang digunakan
5. jenuh karena durasi pelatihan yang memasuki tahap pertengahan

Beberapa jenis ice breaking antara lain :
1. permainan
2. melihat tayangan yang mencairkan suasana
3. pembelajaran interaktif/peserta berperan sebagai narasumber
4. cerita atau tayangan yang memotivasi

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar

MEMBAHAS SOAL

Buku kerja merupakan patner modul. Berfungsi sebagai evaluasi atas materi yang sudah diberikan, terkait dengan ketercapaian KKM. Proses belajar orang dewasa 90% saling mengajarkan, 75% belajar soal. 30% demonstrasi, 20% audiovsual, 10% membaca, 5% mendengarkan. Orang dewasa mempunyai pengalaman belajar, perlu dilakukan bestpractice.

Dipublikasi di Uncategorized | Meninggalkan komentar